Kamis, 10 Februari 2011

PTK

Pada awalnya, penelitian tindakan (action research) dikembangkan dengan tujuan untuk mencari penyelesaian terhadap problema sosial (terma- suk pendidikan). Penelitian tindakan diawali oleh suatu kajian terhadap suatu masalah secara sistematis (Kemmis dan Taggart, 1988). Hasil kijian ini dija- dikan dasar untuk menyusun suatu rencana kerja (tindakan) sebagai upaya untuk mengatasi masalah tersebut. Kegiatan berikutnya adalah pelaksanaan tindakan dilanjutkan dengan observasi dan evaluasi. Hasil observasi dan eva- luasi digunakan sebagai masukkan melakukan refleksi atas apa yang terjadi pada saat pelaksanaan tindakan. Hasil refleksi kemudian dijadikan landasan untuk menentukan perbaikan serta penyempurnaan tindakan selanjutnya.
Menurut Kemmis (1988), penelitian tindakan adalah suatu bentuk peneli- tian refleksi diri yang dilakukan oleh para partisipan dalam situasi-situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki praktik yang dilakukan sendiri. Dengan demikian, akan diperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai praktik dan situasi di mana praktik tersebut dilaksanakan. Terdapat dua hal pokok dalam penelitian tindakan yaitu perbaikan dan keterlibatan. Hal ini akan mengarahkan tujuan penelitian tindakan ke dalam tiga area yaitu; (1) untuk memperbaiki praktik; (2) untuk pengembangan profesional dalam arti meningkatkan pemahaman para praktisi terhadap praktik yang dilaksana- kannya; serta (3) untuk memperbaiki keadaan atau situasi di mana praktik tersebut dilaksanakan.
Dalam bidang pendidikan, khususnya dalam praktik pembelajaran, pene-litian tindakan berkembang menjadi Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Reserach (CAR). PTK adalah penelitian tindakan yang dilaksanakan di dalam kelas ketika pembelajaran berlangsung. PTK dilaku- kan dengan tujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas pembelajaran. PTK berfokus pada kelas atau pada proses pembelajaran yang terjadi di dalam kelas.
Suharsimi (2002) menjelaskan PTK melalui gabungan definisi dari tiga kata yaitu “Penelitian” + “Tindakan“ + “Kelas”. Makna setiap kata tersebut adalah sebagai berikut.
Penelitian; kegiatan mencermati suatu obyek dengan menggunakan cara dan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam memecahkan suatu masalah.
Tindakan; sesuatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Tindakan yang dilaksanakan dalam PTK berbentuk suatu rangkaian siklus kegiatan.
Kelas; sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula. Siswa yang belajar tidak hanya terbatas dalam sebuah ruangan kelas saja, melainkan dapat juga ketika siswa sedang melakukan karyawisata, praktikum di laboratorium, atau belajar tempat lain di bawah arahan guru.
Berdasarkan pengertian di atas, komponen yang terdapat dalam sebuah kelas yang dapat dijadikan sasasaran PTK adalah sebagai berikut.
  1. Siswa, dapat dicermati obyeknya ketika siswa sedang mengikuti proses pembelajaran. Contoh permasalahan tentang siswa yang dapat menjadi sasaran PTK antara lain perilaku disiplin siswa, motivasi atau semangat belajar siswa, keterampilan berpikir kritis, kemampuan memecahkan masalah dan lain-lain.
  2. Guru, dapat dicermati ketika yang bersangkutan sedang mengajar atau membimbing siswa. Contoh permasalahan tentang guru yang dapat menjadi sasaran PTK antara lain penggunaan metode atau strategi pembelajaran, penggunaan pendekatan pembelajaran, dan sebagainya.
  3. Materi pelajaran, dapat dicermati ketika guru sedang mengajar atau menyajikan materi pelajaran yang ditugaskan pada siswa. Contoh permasalahan tentang materi yang dapat menjadi sasaran PTK misalnya urutan dalam penyajian materi, pengorganisasian materi, integrasi materi, dan lain sebagainya. 
  4. Peralatan atau sarana pendidikan, dapat dicermati ketika guru sedang mengajar dangan menggunakan peralatan atau sarana pendidikan tertentu. Contoh permasalahan tentang peralatan atau sarana pendidikan yang dapat menjadi sasaran PTK antara lain pemanfaatan laboratorium, penggunaan media pembelajaran, dan penggunaan sumber belajar.
  5. Hasil pembelajaran yang ditinjau dari tiga ranah (kognitif, afektif, psikomotorik), merupakan produk yang harus ditingkatkan melalui PTK. Hasil pembelajaran akan terkait dengan tindakan yang dilakukan serta unsur lain dalam proses pembelajaran seperti  metode, media, guru, atau perilaku belajar siswa itu sendiri.
  6. Lingkungan, baik lingkungan siswa di kelas, sekolah, maupun yang lingkungan siswa di rumah. Dalam PTK, bentuk perlakuan atau tindakan yang dilakukan adalah mengubah kondisi lingkungan menjadi lebih kondusif misalnya melalui penataan ruang kelas, penataan lingkungan sekolah, dan tindakan lainnya.
  7. Pengelolaan, merupakan kegiatan dapat diatur/direkayasa dengan bentuk tindakan. Contoh permasalahan tentang pengelolaan yang dapat menjadi sasaran PTK antara lain pengelompokan siswa, pengaturan jadwal pelajaran, pengaturan tempat duduk siswa, penataan ruang kelas, dan lain sebagainya.
Karena makna “kelas” dalam PTK adalah sekelompok peserta didik yang sedang belajar serta guru yang sedang memfasilitasi kegiatan belajar, maka permasalahan PTK cukup luas. Permasalahan tersebut di antaranya adalah sebagai berikut.
  1. Masalah belajar siswa di sekolah, seperti misalnya permasalahan pem- belajaran di kelas, kesalahan-kesalahan dalam pembelajaran, miskonsepsi, misstrategi, dan lain sebagainya.
  2. Pengembangan profesionalisme guru dalam rangka peningkatan mutu perencanaan, pelaksanaan serta evaluasi program dan hasil  pembela- jaran.
  3. Pengelolaan dan pengendalian, misalnya pengenalan teknik modifi- kasi perilaku, teknik memotivasi, dan teknik pengembangan potensi diri.
  4. Desain dan strategi pembelajaran di kelas, misalnya masalah pengelo- laan dan prosedur pembelajaran, implementasi dan inovasi penggunaan metode pembelajaran (misalnya penggantian metode mengajar tradisional dengan metode mengajar baru), interaksi di dalam kelas (misalnya penggunaan stretegi pengajaran yang didasarkan pada pendekatan tertentu).
  5. Penanaman dan pengembangan sikap serta nilai-nilai, misalnya pengembangan pola berpikir ilmiah dalam diri siswa.
  6. Alat bantu, media dan sumber belajar, misalnya penggunaan media perpustakaan, dan sumber belajar di dalam/luar kelas.
  7. Sistem assesment atau evaluasi proses dan hasil pembelajaran, seperti misalnya masalah evaluasi awal dan hasil pembelajaran, pengembangan instrumen penilaian berbasis kompetensi, atau penggunaan alat, metode evaluasi tertentu
  8. Masalah kurikulum, misalnya implementasi KBK, urutan penyajian meteri pokok, interaksi antara guru dengan siswa, interaksi antara siswa dengan materi pelajaran, atau interaksi antara siswa dengan lingkungan belajar.
Berdasarkan cakupan permasalannya, seorang guru akan dapat menemukan penyelesaian masalah yang terjadi di kelasnya melalui PTK. Hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan berbagai ragam teori dan teknik pembelajaran yang relevan. Selain itu, PTK dilaksanakan secara bersamaan dangan pelaksanaan tugas utama guru yaitu mengajar di dalam kelas, tidak perlu harus meninggalkan siswa. Dengan demikian, PTK merupakan suatu bentuk penelitian yang melekat pada guru, yaitu mengangkat masalah-masalah aktual yang dialami oleh guru di lapangan. Dengan melaksanakan PTK, diharapkan guru memiliki peran ganda yaitu sebagai praktisi dan sekaligus peneliti.

Tujuan utama PTK adalah untuk memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di dalam kelas sekaligus mencari jawaban ilmiah mengapa hal tersebut dapat dipecahkan melalui tindakan yang akan dilakukan. PTK juga bertujuan untuk meningkatkan kegiatan nyata guru dalam pengembangan profesinya. Tujuan khusus PTK adalah untuk mengatasi berbagai persoalan nyata guna memperbaiki atau meningkatkan kualitas proses pembelajaran di kelas. Secara lebih rinci tujuan PTK antara lain:
(1)     Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, dan hasil pendidikan dan pembelajaran di sekolah.
(2)     Membantu guru dan tenaga kependidikan lainnya dalam mengatasi masalah pembelajaran dan pendidikan di dalam dan luar kelas.
(3)     Meningkatkan sikap profesional pendidik dan tenaga kependidikan.
(4)     Menumbuh-kembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan/pembelajaran secara berkelanjutan.
Output atau hasil yang diharapkan melaltu PTK adalah peningkatan atau perbaikan kualitas proses dan hasil pembelajaran yang meliputi hal-hal sebagai berikut.
(1)     Peningkatan atau perbaikan kinerja siswa di sekolah.
(2)     Peningkatan atau perbaikan mutu proses pembelajaran di kelas.
(3)     Peningkatan atau perbaikan kualitas penggunaan media, alat bantu belajar, dan sumber belajar lainya.
(4)     Peningkatan atau perbaikan kualitas prosedur dan alat evaluasi yang digunakan untuk mengukur proses dan hasil belajar siswa.
(5)     Peningkatan atau perbaikan masalah-masalah pendidikan anak di sekolah.
(6)     Peningkatan dan perbaikan kualitas dalam penerapan kurikulum dan pengembangan kompetensi siswa di sekolah.
Dengan memperhatikan tujuan dan hasil yang dapai dapat dicapai melalui PTK, terdapat sejumlah manfaat PTK antara lain sebagai berikut.
(1)     Menghasilkan laporan-laporan PTK yang dapat dijadikan bahan panduan bagi para pendidik (guru) untuk meningkatkan kulitas pembelajaran. Selain itu hasil-hasil PTK yang dilaporkan dapat dijadikan sebagai bahan artikel ilmiah atau makalah untuk berbagai kepentingan antara lain disajikan dalam forum ilmiah dan dimuat di jurnal ilmiah.
(2)     Menumbuhkembangkan kebiasaan, budaya, dan atau tradisi meneliti dan menulis artikel ilmiah di kalangan pendidik. Hal ini ikut mendukung professionalisme dan karir pendidik.
(3)     Mewujudkan kerja sama, kaloborasi, dan atau sinergi antarpendidik dalam satu sekolah atau beberapa sekolah untuk bersama-sama memecahkan masalah dalam pembelajaran dan meningkatkan mutu pembelajaran.
(4)     Meningkatkan kemampuan pendidik dalam upaya menjabarkan kurikulum atau program pembelajaran sesuai dengan tuntutan dan konteks lokal, sekolah, dan kelas. Hal ini turut memperkuat relevansi pembelajaran bagi kebutuhan peserta didik.
(5)     Memupuk dan meningkatkan keterlibatan, kegairahan, ketertarikan, kenyamanan, dan kesenangan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas. Di samping itu, hasil belajar siswa pun dapat meningkat.
(6)     Mendorong terwujudnya proses pembelajaran yang menarik, menantang, nyaman, menyenangkan, serta melibatkan siswa karena strategi, metode, teknik, dan atau media yang digunakan dalam pembelajaran demikian bervariasi dan dipilih secara sungguh-sungguh.

PTK merupakan bentuk penelitian tindakan yang diterapkan dalam aktivitas pembelajaran di kelas. Ciri khusus PTK adalah adanya tindakan nyata yang dilakukan sebagai bagian dari kegiatan penelitian dalam rangka memecahkan masalah. Tindakan tersebut dilakukan pada situasi alami serta ditujukan untuk memecahkan masalah praktis. Tindakan yang diambil merupakan kegiatan yang sengaja dilakukan atas dasar tujuan tertentu. Tindakan dalam PTK dilakukan dalam suatu siklus kegiatan.
Terdapat sejumlah karakteristik yang merupakan keunikan PTK dibandingkan dengan penelitian pada umumnya,  antara lain sebagai berikut.
(1)     PTK merupakan kegiatan yang tidak saja berupaya memecahkan masalah, tetapi sekaligus mencari dukungan ilmiah atas pemecahan masalah tersebut.
(2)     PTK merupakan bagian penting upaya pengembangan profesi guru melalui aktivitas berpikir kritis dan sistematis serta membelajarkan guru untuk menulis dan membuat catatan.
(3)     Persoalahan yang dipermasalahkan dalam PTK bukan dihasilkan dari kajian teoretik atau dan penelitian terdahulu, tetapi berasal dari adanya permasalahan nyata dan aktual (yang terjadi saat ini) dalam pembelajaran di kelas. PTK berfokus pada pemecahan masalah praktis bukan masalah teoretis.
(4)     PTK dimulai dari permasalahan yang sederhana, nyata, jelas, dan tajam mengenai hal-hal yang terjadi di dalam kelas.
(5)     Adanya kolaborasi (kerjasama) antara praktisi (guru dan kepala sekolah) dengan peneliti dalam hal pemahaman, kesepakatan tentang permasalahan, pengambilan keputusan yang akhirnya melahirkan kesamaan tentang tindakan (action) .
(6)     PTK dilakukan hanya apabila; (a) Ada keputusan kelompok dan komitmen untuk pengembangan; (b) Bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme guru; (c) Alasan pokok ingin tahu, ingin membantu, ingin meningkatkan; dan (d) Bertujuan memperoleh pengetahuan dan atau sebagai upaya pemecahan masalah.
Kolaborasi (kerjasama) antara praktisi (guru) dan peneliti (dosen atau widyaiswara) merupakan salah satu ciri khas PTK. Melalui kolaborasi ini mereka bersama menggali dengan mengkaji permasalahan nyata yang dihadapi oleh guru dan atau siswa. Sebagai penelitian yang bersifat kolaboratif, harus secara jelas diketahui peranan dan tugas guru dengan peneliti. Dalam PTK kolaboratif, kedudukan peneliti setara dengan guru, dalam arti masing-masing mempunyai peran serta tanggung jawab yang saling membutuhkan dan saling melengkapi. Peran kolaborasi turut menentukan keberhasilan PTK terutama pada kegiatan mendiagnosis masalah, merencanakan tindakan, melaksanakan penelitian (tindakan, observasi, merekam data, evaluasi, dan refleksi), menganalisis data, menyeminarkan hasil, dan menyusun laporan hasil. 
Sering terjadi PTK dilaksanakan sendiri oleh guru. Guru melakukan PTK tanpa kerjasama dengan peneliti. Dalam hal ini guru berperan sebagai peneliti sekaigus sebagai praktisi pembelajaran. Guru profesional seharusnya mampu mengajar sekaligus meneliti. Dalam keadaan seperti ini, maka guru melakukan pengamatan terhadap diri sendiri ketika sedang melakukan tindakan (Suharsimi, 2002). Untuk itu guru harus mampu melakukan pengamatan diri secara obyektif agar kelemahan yang terjadi dapat terlihat dengan wajar. Melalui PTK, guru sebagai peneliti dapat:
(1)      mengkaji/ meneliti sendiri praktik pembelajarannya;
(2)      melakukan PTK dengan tanpa mengganggu tugasnya;
(3)      mengkaji permasalahan yang dialami dan yang sangat dipahami; dan
(4)      melakukan kegiatan guna mengembangkan profesionalismenya.
Dalam praktiknya, boleh saja guru melakukan PTK tanpa kolaborasi dengan peneliti. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa PTK yang dilakukan oleh guru tanpa kolaborasi dengan peneliti mempunyai kelemahan karena para praktisi umumnya (dalam hal ini adalah guru) kurang akrab dengan teknik-teknik dasar penelitian. Di samping itu,  guru pada umumnya tidak memiliki waktu untuk melakukan penelitian sehubungan dengan padatnya kegiatan pengajaran yang dilakukan. Akibatnya, hasil PTK menjadi kurang memenuhi kriteria validitas metodologi ilmiah. Dalam konteks kegiatan pengawasan sekolah, seorang pengawas sekolah dapat berperan sebagai kolaborator bagi guru dalam melaksanakan PTK.

Terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan oleh guru (peneliti) dalam pelaksanaan PTK yaitu sebagai berikut.
Pertama, tindakan dan pengamatan dalam proses penelitian yang dilakukan tidak boleh mengganggu atau menghambat kegiatan utama, misalnya bagi guru tidak boleh sampai mengorbankan kegiatan pembelajaran. Pekerjaan utama guru adalah mengajar, apapun jenis PTK diterapkan, seyogyanya tidak mengganggu tugas guru sebagai pengajar. Terdapat 3 hal penting berkenaan dengan prinsip pertama tersebut yaitu (1) Dalam mencobakan sesuatu tindakan pembelajaran, ada kemungkinan hasilnya kurang memuaskan, bahkan mungkin kurang dari yang diperoleh dari biasanya. Karena bagaimanapun tindakan tersebut masih dalam taraf uji coba. Untuk itu, guru harus penuh pertimbangan ketika memilih tindakan guna memberikan yang terbaik kepada siswa; (2) Siklus tindakan dilakukan dengan mempertimbangkan keterlaksanaan kurikulum secara keseluruhan serta ketercapaian tujuan pembelajaran secara utuh, bukan terbatas dari segi tersampaikannya materi pada siswa dalam kurun waktu yang telah ditentukan; (3) Penetapan jumlah siklus tindakan dalam PTK mengacu kepada penguasaan yang ditargetkan pada tahap perencanaan, tidak mengacu kepada kejenuhan data/informasi sebagaimana lazimnya  dalam pengumpulan data penelitian kualitatif.
Kedua, masalah penelitian yang dikaji merupakan masalah yang cukup merisaukannya dan berpijak dari tanggung jawab profesional guru. Guru harus memiliki komitmen untuk melaksanakan kegiatan yang akan menuntut kerla ekstra dibandingkan dengan pelaksanaan tugas secara rutin. Pendorong utama PTK adalah komitmen profesional guru untuk memberikan layanan yang terbaik kepada siswa.
Ketiga, metode pengumpulan data yang digunakan tidak menuntut waktu yang lama, sehingga berpeluang menggangu proses pembelajaran. Sejauh mungkin harus digunakan prosedur pengumpulan data yang dapat ditangani sendiri oleh guru, sementara guru tetap aktif berfungsi sebagai guru yang bertugas secara penuh. Oleh karena itu, perlu dikembangkan teknik-teknik perekaman data yang cukup sederhana, namun dapat menghasilkan informasi yang cukup bermakna.
Keempat, metodologi yang digunakan harus terencana secara cermat, sehingga tindakan dapat dirumuskan dalam suatu hipotesis tindakan yang dapat diuji di lapangan. Guru dapat mengembangkan strategi yang dapat diterapkan pada situasi kelasnya, serta memperoleh data yang dapat digunakan untuk “menjawab” hipotesis yang dikemukakan.
Kelima, permasalahan atau topik yang dipilih harus benar–benar nyata, menarik, mampu ditangani, dan berada dalam jangkauan kewenangan peneliti untuk melakukan perubahan. Peneliti harus merasa terpanggil untuk meningkatkan diri.
Keenam; peneliti harus tetap memperhatikan etika dan tata krama penelitian serta rambu–rambu pelaksanaan yang berlaku umum. Dalam penyelenggaraan PTK, guru harus bersikap konsisten dan peduli terhadap etika yang berkaitan dengan pekerjaannya. Hal ini penting ditekankan karena selain melibatkan para siswa, PTK juga hadir dalam suatu konteks organisasi sehingga penyelenggaraannya harus mengindahkan tata krama kehidupan berorganisasi. Artinya, prakarsa PTK harus diketahui oleh pimpinan lembaga, disosialisasikan pada rekan-rekan di lembaga terkait, dilakukan sesuai tata krama penyusunan karya tulis akademik, di samping tetap mengedepankan kemaslahatan bagi siswa.
Ketujuh; kegiatan PTK pada dasarnya merupakan kegiatan yang berkelanjutan, karena tuntutan terhadap peningkatan dan pengembangan akan menjadi tantangan sepanjang waktu.
Kedelapan, meskipun kelas atau mata pelajaran merupakan tanggung jawab guru, namun tinjauan terhadap PTK tidak terbatas dalam konteks kelas dan atau mata pelajaran tertentu melainkan dalam perspektif misi sekolah. Hal ini terasa penting apabila dalam suatu PTK terlibat lebih dari seorang peneliti, misalnya melalui kolaborasi antar guru dalam satu sekolah atau dengan dosen, widyaiswara, dan pengawas sekolah.

B. PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS

PTK bukan hanya bertujuan mengungkapkan penyebab dari berbagai permasalahan pembelajaran yang dihadapi seperti kesulitan siswa dalam mempelajari pokok-pokok bahasan tertentu, tetapi yang lebih penting lagi adalah memberikan pemecahan masalah berupa tindakan tertentu untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar. Atas dasar itu, terdapat tiga hal penting dalam pelaksanaan PTK yakni sebagai berikut.
(1)    PTK adalah penelitian yang mengikutsertakan secara aktif peran guru dan siswa dalam berbagai tindakan.
(2)    Kegiatan refleksi (perenungan, pemikiran, evaluasi) dilakukan berdasar- kan pertimbangan rasional (menggunakan konsep teori) yang mantap dan valid guna melakukan perbaikan tindakan dalam upaya memecahkan masalah yang terjadi.
(3)    Tindakan perbaikan terhadap situasi dan kondisi pembelajaran dilakukan dengan segera dan dilakukan secara praktis (dapat dilakukan dalam praktik pembelajaran).
Pembahasan berikutnya akan menguraikan prosedur pelaksanaan PTK yang meliputi penetapan fokus permasalahan, perencanaan tindakan, pelak- sanaan tindakan yang diikuti dengan kegiatan observasi, interpretasi, dan analisis, serta refleksi. Apabila diperlukan, pata tahap selanjutnya disusun rencana tinda lanjut. Upaya tersebut dilakukan secara berdaur membentuk suatu siklus. Langkah-langkah pokok yang ditempuh pada siklus pertama dan siklus-siklus berikutnya adalah sebagai berikut.
(1)     Penetapan fokus permasalahan
(2)     Perencanaan tindakan
(3)     Pelaksanaan tindakan
(4)     Pengumpulan data (pengamatan/observasi)
(5)     Refleksi (analisis, dan interpretasi)
(6)     Perencanaan tindak lanjut.
Untuk lebih jelasnya, rangkaian kegiatan dari setiap siklus dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar 3. 1.  Siklus Kegiatan PTK

Setelah permasalahan ditetapkan, pelaksanaan PTK dimulai dengan siklus pertama yang terdiri atas empat kegiatan. Apabila sudah diketahui keberhasilan atau hambatan dalam tindakan yang dilaksanakan pada siklus pertama, peneliti kemudian mengidentifikasi permasalahan baru untuk menentukan rancangan siklus berikutnya. Kegiatan pada siklus kedua dapat berupa kegiatan yang sama dengan sebelumnya bila ditujukan untuk mengulangi keberhasilan, untuk meyakinkan, atau untuk menguatkan hasil. Tetapi pada umumnya kegiatan yang dilakukan dalam siklus kedua mempunyai berbagai tambahan perbaikan dari tindakan sebelumnya yang ditunjukan untuk mengatasi berbagai hambatan/ kesulitan yang ditemukan dalam siklus sebelumnya.
Dengan menyusun rancangan untuk siklus kedua, peneliti dapat melanjutkan dengan tahap kegiatan-kegiatan seperti yang terjadi dalam siklus pertama. Jika sudah selesai dengan siklus kedua dan peneliti belum merasa puas, dapat dilanjutkan pada siklus ketiga, yang tahapannya sama dengan siklus terdahulu. Tidak ada ketentuan tentang berapa siklus harus dilakukan. Banyaknya siklus tergantung dari kepuasan peneliti sendiri, namun ada saran, sebaiknya tidak kurang dari dua siklus. Rincian kegiatan pada setiap tahapan adalah sebagai berikut:

Sebelum suatu masalah ditetapkan/dirumuskan, perlu ditumbuhkan sikap dan keberanian untuk mempertanyakan, misalnya tentang kualitas proses dan hasil pembelajaran yang dicapai selama ini. Sikap tersebut diperlukan untuk menumbuhkan keinginan peneliti memperbaiki kualitas pembelajaran. Tahapan ini disebut dengan tahapan merasakan adanya masalah. Jika dirasakan ada hal-hal yang perlu diperbaiki dapat diajukan pertanyaan seperti di bawah ini.
1.    Apakah kompetensi awal siswa yang mengikuti pelajaran cukup memadai?
2.    Apakah proses pembelajaran yang dilakukan cukup efektif?
3.    Apakah sarana pembelajaran cukup memadai?
4.    Apakah hasil pembelajaran cukup berkualitas?
5.    Bagaimana melaksanakan pembelajaran dengan strategi inovatif tertentu?
Secara umum karaktersitik suatu masalah yang layak diangkat untuk PTK adalah sebagai berikut.
1.    Masalah itu menunjukkan suatu kesenjangan antara teori dan fakta empirik yang dirasakan dalam proses pembelajaran. Apabila hal ini terjadi, guru merasa prihatin atas terjadinya kesenjangan, timbul kepedulian dan niat untuk mengurangi tersebut dan berkolaborasi dengan dosen/widyaiswara/pengawas untuk melaksanakan PTK.
2.    Masalah tersebut memungkinkan untuk dicari dan diidentifikasi faktor-faktor penyebabnya. Faktor-faktor tersebut menjadi dasar atau landasan untuk menentukan alternatif solusi.
3.    Adanya kemungkinan untuk dicarikan alternatif solusi bagi masalah tersebut melalui tindakan nyata yang dapat dilakukan guru/peneliti.
Dianjurkan agar masalah yang dipilih untuk diangkat sebagai masalah PTK adalah yang memiliki nilai yang bukan sesaat, tetapi memiliki nilai strategis bagi keberhasilan pembelajaran lebih lanjut dan memungkinkan diperolehnya model tindakan efektif yang dapat dipergunakan untuk memecahkan masalah serumpun. Pertanyaan yang dapat diajukan untuk menguji kelayakan masalah yang dipilih antara lain seperti di bawah ini.
1.    Apakah masalah yang dirasakan secara jelas teridentifikasi dan terformulasikan dengan benar?
2.    Apakah ada masalah lain yang terkait dengan masalah yang akan dipecahkan?
3.    Apakah ada bukti empirik yang memperlihatkan nilai guna untuk perbaikan praktik pembelajaran jika masalah tersebut dipecahkan?
Pada tahap selanjutnya dilakukan identifikasi masalah yang sangat menarik perhatian. Aspek penting pada tahap ini adalah menghasilkan gagasan-gagasan awal mengenai permasalahan aktual yang dialami dalam pembelajaran. Tahap ini disebut identifikasi permasalahan. Cara melakukan identifikasi masalah antara lain sebagai berikut.
(1)     Menuliskan semua hal (permasalahan) yang perlu diperhatikan karena akan mempunyai dampak yang tidak diharapkan terutama yang berkaitan dengan pembelajaran.
(2)     Memilah dan mengklasisfikasikan permasalahan menurut jenis/ bidangnya, jumlah siswa yang mengalaminya, serta tingkat frekuensi timbulnya masalah tersebut.
(3)     Mengurutkan dari yang ringan, jarang terjadi, banyaknya siswa yang mengalami untuk setiap permasalahan yang teridentifikasi.
(4)     Dari setiap urutan diambil beberapa masalah yang dianggap paling penting untuk dipecahkan sehingga layak diangkat menjadi masalah PTK. Kemudian dikaji kelayakannya dan manfaatnya untuk kepentingan praktis, metodologis maupun teoretis.
       Setelah memperoleh sederet permasalahan melalui identifikasi, dilanjut- kan dengan analisis untuk menentukan kepentingan. Analisis terhadap masa- lah juga dimaksud untuk mengetahui proses tindak lanjut perbaikan atau pemecahan yang dibutuhkan. Adapun yang dimaksud dengan analisis masalah di sini ialah kajian terhadap permasalahan dilihat dari segi kelayakannya. Sebagai acuan dapat diajukan antara lain pertanyaan sebagai berikut.
(1)     Bagaimana konteks, situasi atau iklim di mana masalah terjadi?
(2)     Apa kondisi-kondisi prasyarat untuk terjadinya masalah?
(3)     Bagaimana keterlibatan masing-masing komponen dalam terjadinya masalah?
(4)     Bagaimana kemungkinan alternatif pemecahan yang dapat diajukan?
(5)     Bagaimana ketepatan waktu, dan lama atau durasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah?
Analisis masalah dipergunakan untuk merancang tindakan baik dalam bentuk spesifikasi tindakan, keterlibatan peneliti, waktu dalam satu siklus, indikator keberhasilan, peningkatan sebagai dampak tindakan, dan hal-hal yang terkait lainya dengan pemecahan yang diajukan.
Pada tahap selanjutnya, masalah-masalah yang telah diidentifikasi dan ditetapkan dirumuskan secara jelas, spesifik, dan operasional. Perumusan masalah yang jelas memungkinkan peluang untuk pemilihan tindakan yang tepat. Contoh rumusan masalah yang mengandung tindakan alternatif yang ditempuh antara lain sebagai berikut.
(1)     Apakah strategi pembelajaran menulis yang berorientasi pada proses dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis?
(2)     Apakah pembelajaran berorientasi proses dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran?
(3)     Apakah penyampaian materi dengan menggunakan LKS dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran?
(4)     Apakah penggunaan strategi pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran IPS?   
Dalam memformulasikan masalah, peneliti perlu memperhatikan beberapa ketentuan yang biasa berlaku meliputi hal-hal di bawah ini.
(1)     Aspek substansi menyangkut isi yang terkandung, perlu dilihat dari bobot atau nilai kegunaan manfaat pemecahan masalah melalui tindakan seperti nilai aplikatifnya untuk memecahkan masalah serupa yang dihadapi guru, kegunaan metodologi dan kegunaan teori dalam memperkaya keilmuan pendidikan/pembelajaran.
(2)     Aspek orisinalitas (tindakan), yang menunjukan bahwa pemecahan dengan model tindakan itu merupakan suatu hal baru yang yang belum pernah dilakukan guru sebelumnya.
(3)     Aspek formulasi, dalam hal ini masalah dirumuskan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Rumusan masalah harus dinyatakan secara lugas dalam arti eksplisit dan spesifik tentang apa yang akan dipermasalahkan serta tindakan yang diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut.
(4)     Aspek teknis, menyangkut kemampuan dan kelayakan peneliti untuk melakukan penelitian terhadap masalah yang dipilih. Pertimbangan yang dapat diajukan seperti kemampuan teoretik dan metodologik pembelajaran, penguasaan materi ajar, teori, strategi dan metodologi pembelajaran, kemampuan fasilitas untuk melakukan PTK (dana, waktu, dan tenaga). Oleh karena itu, disarankan bagi peneliti untuk berangkat dari permasalahan sederhana tetapi bermakna, memiliki nilai praktis bagi guru dan semua yang berkolaborasi dapat memperoleh pengalaman belajar dalam rangka pengembangan keprofesionalannya.

Setelah masalah dirumuskan secara operasional, perlu dirumuskan alternatif tindakan yang akan diambil. Alternatif tindakan yang dapat diambil dapat dirumuskan ke dalam bentuk hipotesis tindakan dalam arti dugaan mengenai perubahan yang akan terjadi jika suatu tindakan dilakukan. Perencanaan tindakan memanfaatkan secara optimal teori-teori yang relevan dan pengalaman yang diperoleh di masa lalu dalam kegiatan pembelajaran/penelitian sebidang. Bentuk umum rumusan hipotesis tindakan berbeda dengan hipotesis dalam penelitian formal.
Hipotesis tindakan umumnya dirumuskan dalam bentuk keyakinan tindakan yang diambil akan dapat memperbaiki sistem, proses, atau hasil. Hipotesis tindakan sesuai dengan permasalahan yang akan dipecahkan dapat dicontohkan seperti di bawah ini.
(1)     Strategi pembelajaran menulis yang berorientasi pada proses dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis.
(2)     Pembelajaran berorientasi proses dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran.
(3)     Penyampaian materi dengan menggunakan LKS dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran.
(4)     Penggunaan strategi pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran IPS.   
Secara rinci, tahapan perencanaan tindakan terdiri atas kegiatan- kegiatan sebagai berikut.
(1)     Menetapkan cara yang akan dilakukan untuk menemukan jawaban, berupa rumusan hipotesis tindakan. Umumnya dimulai dengan menetapkan berbagai alternatif tindakan pemecahan masalah, kemudian dipilih tindakan yang paling menjanjikan hasil terbaik dan yang dapat dilakukan guru.
(2)     Mentukan cara yang tepat untuk menguji hipotesis tindakan dengan menjabarkan indikator-indikator keberhasilan serta instrumen pengumpul data yang dapat dipakai untuk menganalisis indikator keberhasilan itu.
(3)     Membuat secara rinci rancangan tindakan yang akan dilaksanakan mencakup; (a) Bagian isi mata pelajaran dan bahan belajarnya; (b) Merancang strategi dan skenario pembelajaran sesuai dengan tindakan yang dipilih; serta (c) Menetapkan indikator ketercapaian dan menyusun instrumen pengumpul data.



Pada tahapan ini, rancangan strategi dan skenario pembelajaran diterap- kan. Skenario tindakan harus dilaksanakan secara benar tampak berlaku wajar. Pada PTK yang dilakukan guru, pelaksanaan tindakan umumnya dilakukan dalam waktu antara 2 sampai 3 bulan. Waktu tersebut dibutuhkan untuk dapat menyesaikan sajian beberapa pokok bahasan dan mata pelajaran tertentu. Berikut disajikan contoh aspek-aspek rencana (skenario) tindakan yang akan dilakukan pada satu PTK.
1.    Dirancang penerapan metode tugas dan diskusi dalam pembelajaran X untuk pokok bahasan : A, B, C, dan D.
2.    Format tugas: pembagian kelompok kecil sesuai jumlah pokok bahasan, pilih ketua, sekretaris, dll oleh dan dari anggota kelompok, bagi topik bahasan untuk kelompok dengan cara random, dengan cara yang menyenangkan.
3.    Kegiatan kelompok; mengumpulkan bacaan, melalui diskusi anggota kelompok bekerja/ belajar memahami materi, menuliskan hasil diskusi dalam OHP untuk persiapan presentasi.
4.    Presentasi dan diskusi pleno; masing-masing kelompok menyajikan hasil kerjanya dalam pleno kelas, guru sebagai moderator, lakukan diskusi, ambil kesimpulan sebagai hasil pembelajaran.
5.    Jenis data yang dikumpulkan; berupa makalah kelompok, lembar OHP hasil kerja kelompok, siswa yang aktif dalam diskusi, serta hasil belajar yang dilaksanakan sebelum (pretes) dan setelah (postes) tindakan dilak- sanakan.

Tahapan ini sebenarnya berjalan secara bersamaan pada saat pelaksa- naan tindakan. Pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang berjalan, keduanya berlangsung dalam waktu yang sama. Pada tahapan ini, peneliti (atau guru apabila ia bertindak sebagai peneliti) melakukan pengamatan dan mencatat semua hal-hal yang diperlukan dan terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung. Pengumpulan data ini dilakukan dengan menggunakan format observasi/penilaian yang telah disusun. Termasuk juga pengamatan secara cermat pelaksanaan skenario tindakan dari waktu ke waktu dan dampaknya terhadap proses dan hasil belajar siswa. Data yang dikumpulkan dapat berupa data kuantitatif (hasil tes, hasil kuis, presensi, nilai tugas, dan lain-lain), tetapi juga data kualitatif yang menggambarkan keaktifan siswa, atusias siswa, mutu diskusi yang dilakukan, dan lain-lain.
Instrumen yang umum dipakai adalah (a) soal tes, kuis; (b) rubrik; (c) lembar observasi; dan (d) catatan lapangan yang dipakai untuk memperoleh data secara obyektif yang tidak dapat terekam melalui lembar observasi, seperti aktivitas siswa selama pemberian tindakan berlangsung, reaksi mereka, atau pentunjuk-petunjuk lain yang dapat dipakai sebagai bahan dalam analisis dan untuk keperluan refleksi.
Sebagai contoh pada satu usulan PTK akan dikumpulkan data seperti: (a) skor tes essai; (b) skor kualitas (kualitatif) pelaksanaan diskusi dan jumlah pertanyaan dan jawaban yang terjadi selama proses pembelajaran; serta (c) hasil observasi dan catatan lapangan yang berkaitan dengan kegiatan siswa.
Berdasarkan data-data yang akan dikumpulkan seperti di atas, maka akan dipakai instrumen; (a) soal tes yang berbentuk essai; (b) pedoman dan kriteria penilaian/skoring baik dari tes essai maupun untuk pertanyaan dari jawaban lisan selama diskusi; (c) lembar observasi guna memperoleh data aktivitas diskusi yang diskor dengan rubrik; dan (d) catatan lapangan.
Data yang dikumpulkan hendaknya dicek untuk mengetahui keabsahannya. Berbagai teknik dapat dilakukan untuk tujuan ini,  misalnya teknik triangulasi dengan cara membandingkan data yang diperoleh dengan data lain, atau kriteria tertentu yang telah baku, dan lain sebagainya. Data yang telah terkumpul memerlukan analisis lebih lanjut untuk mempermudah penggunaan maupun dalam penarikan kesimpulan. Untuk itu berbagai teknik analisis statistika dapat digunakan.

Tahapan ini dimaksudkan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan, berdasar data yang telah terkumpul, dan kemudian melakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan yang berikutnya. Refleksi dalam PTK mencakup analisis, sintesis, dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan. Jika terdapat masalah dan proses refleksi, maka dilakukan proses pengkajian ulang melalui siklus berikutnya yang meliputi kegiatan: perencanaan ulang, tindakan ulang, dan pengamatan ulang sehingga permasalahan yang dihadapi dapat teratasi. 

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS


Penyusunan proposal atau usulan penelitian merupakan langkah awal yang harus dilakukan peneliti sebelum memulai kegiatan PTK. Proposal PTK dapat membantu memberi arah pada peneliti agar mampu menekan kesalahan yang mungkin terjadi selama penelitian berlangsung. Proposal PTK harus dibuat sistematis dan logis sehingga dapat dijadikan pedoman yang mudah diikuti. Proposal PTK adalah gambaran terperinci tentang proses yang akan dilakukan peneliti (guru) untuk memecahkan masalah dalam pelaksanaan tugas (pembelajaran).
Proposal atau sering disebut juga sebagai usulan penelitian adalah suatu pernyataan tertulis mengenai rencana atau rancangan kegiatan penelitian secara keseluruhan. Proposal PTK penelitian berkaitan dengan pernyataan atas nilai penting dari suatu penelitian. Membuat proposal PTK bisa jadi merupakan langkah yang paling sulit namun menyenangkan di dalam tahapan proses penelitian. Sebagai panduan, berikut dijelaskan sistematika usulan PTK.

Sistematika proposal PTK mencakup unsur-unsur sebagai berikut:

JUDUL PENELITIAN
Judul penelitian dinyatakan secara singkat dan spesifik tetapi cukup jelas menggambarkan masalah yang akan diteliti, tindakan untuk mengatasi masalah serta nilai manfaatnya. Formulasi judul dibuat agar menampilkan wujud PTK bukan penelitian pada umumnya. Umumnya di bawah judul utama dituliskan pula sub judul. Sub judul ditulis untuk menambahkan keterangan lebih rinci tentang subyek, tempat, dan waktu penelitian. Berikut contoh judul PTK dalam pendidikan dasar.
(1)     Meningkatkan hasil belajar melalui pembelajanan kooperatif pada mata pelajaran IPS (dapat dituliskan topik bahasan dan juga mata pelajarannya) di SD Negeri Banjarsari, Bandung.
(2)     Penerapan pembelajaran model Problem Based Learning untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah pada mata pelajaran Fisika Kelas VII di SMP XXX.
(3)     Implementasi Strategi Pembelajaran Inkuiri pada Mata Pelajaran Geografi untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep tentang Perpindahan Penduduk.
(4)     Pembelajaran Penjumlahan, Pengurangan, Perkalian, Pembagian Menggunakan Sedotan (Drinking Straws) dan Kantong Operasi Hidung pada kelas 2 SD dengan Pendekatan Pakempros.
(5)     Upaya Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Matematika dengan Menerapkan Pendekatan Realistik dengan Teknik Brainstorming by Guided Reinvension di Kelas X   SMAN 3 Kota Manna.
(6)     Praktik Radikal bebas dan Model Pembelajaran Problem Based Instruction Sebai Upaya untuk Meningkatkan Hasil belajar Siswa Pada mata Pelajaran Biologi.
(7)     Pengunaan Model Kreasi 10 Pola dan Pemanfaatan Bahan Ubi Jalar dalam Proses Pembelajaran Desain Seni Batik Cap di SMA.
(8)     Permainan Drag and Drop sebagai Kemampuan Menggali informasi pada materi Akuntansi sebagai Sistem Informasi di Kelas XI Jurusan Ilmu Sosial SMAN 1 Sulang Tahun Pelajaran 2006/2007.
(9)     Efektivitas Permainan Sepak Bola Tuna Netra dengan                                               Microkontroer Alternatif Alat Permainan Sepak Bola dengan Menggunakan Sensor Infra Red.
(10) Aplikasi Model Pembelajaran Traffic light Card Untuk Meningkatkan Prestasi Siswa Kelas I SMKN 3 Banjarasri.
(11) Penerapan Pembelajaran Tematik untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Teknologi Bagi Siswa Kelas III SDN Tanggungrejo 4 Malang.
(12) Menumbuhkan Sikap Demokratis Siswa Kelas V SD Negeri No.2 Maros Melalui Permainan Simulasi dengan Media Papan Kartu dan Kartu Beberan.
(13) .Integrasi Outdoor Learning dan Indoor Learning dalam Meningkatkan Kemandirian di TK Anak Saleh Malang.
(14) Meningkatkan Kreativitas Siswa SD Negeri 3 Kota Banjar Dalam Pembelajaran IPA melalui PAKEM.
(15) Peningkatan Keterampiran Menulis Paragraf Deskriptif bahasa Inggris Melalui Kolaborasi Kamus Gambar dan Kerja kelompok di Kelas VII A SMPN 19 Surabaya.
(16) Metode Tiga Pencitraan Dalam Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Matematika dalam pembelajaran Bilangan Bulat dengan Media Bimamun Opsiba di Kelas VII B SMPN 2 Pakisjaya Kabupaten Karawang.
(17) Implementasi Model Cooperative Thinking and Moving (CTM) pada Pembelajaran PKn dalam upaya meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Siswa di Kelas IX SMPN 1 Pamulihan Kabupaten Sumedang.
(18) Optimalisasi Penggunaan Asesmen Otentik untuk Meningkatkan Kerja Ilmiah Siswa pada Pembelajaran Sains di SMP.


BAB I        PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Tujuan utama PTK adalah untuk memecahkan permasalahan pembelajaran. Untuk itu, dalam uraian  latar belakang masalah yang harus dipaparkan hal-hal berikut.
(1)     Masalah yang diteliti adalah benar-benar masalah pembelajaran yang terjadi di sekolah. Umumnya didapat dari pengamatan dan diagnosis yang dilakukan guru atau tenaga kependidikan lain di sekolah. Perlu dijelaskan pula proses atau kondisi yang terjadi.
(2)     Masalah yang akan diteliti merupakan suatu masalah penting dan mendesak untuk dipecahkan, serta dapat dilaksanakan dilihat dari segi ketersediaan waktu, biaya, dan daya dukung lainnya yang dapat memperlancar penelitian tersebut.
(3)     Identifikasi masalah di atas, jelaskan hal-hal yang diduga menjadi akar penyebab dari masa!ah tersebut. Secara cermat dan sistematis berikan alasan (argumentasi) bagaimana dapat menarik kesimpulan tentang akar masalah itu.

B.  Perumusan Masalah dan Cara Pemecahan Masalah
Pada bagian ini umumnya terdiri atas jabaran tentang rumusan masalah, cara pemecahan masalah, tujuan serta manfaat atau kontribusi hasil penelitian.
(1)     Perumusan Masalah, berisi rumusan masalah penelitian. Dalam perumusan masalah dapat dijelaskan definisi, asumsi, dan lingkup yang menjadi batasan PTK. Rumusan masalah sebaiknya menggunakan kalimat tanya dengan mengajukan alternatif tindakan yang akan dilakukan dan hasil positif yang diantisipasi dengan cara mengajukan indikator keberhasilan tindakan, cara pengukuran serta cara mengevaluasinya.
(2)     Pemecahan Masalah; merupakan  uraian altematif tindakan yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah. Pendekatan dan konsep yang digunakan untuk menjawab masalah yang diteliti disesuaikan dengan kaidah PTK. Cara pemecahan masalah ditentukan atas dasar akar penyebab permasalahan dalam bentuk tindakan yang jelas dan terarah. Alternatif pemecahan hendaknya mempunyai landasan konseptual yang mantap yang bertolak dari hasil analisis masalah. Di samping itu, harus terbayangkan manfaat hasil pemecahan masalah dalam pembenahan dan/atau peningkatan implementasi program pembelajaran. Juga dicermati artikulasi kemanfaatan PTK berbeda dari kemanfaatan penelitian formal.



C.  Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan PTK dirumuskan secara jelas, dipaparkan sasaran antara dan sasaran akhir tindakan perbaikan. Perumusan tujuan harus konsisten dengan hakikat permasalahan yang dikemukakan dalam bagian-bagian sebelumnya. Sebagai contoh dapat dikemukakan PTK di bidang IPA yang bertujuan meningkatkan prestasi siswa dalam mata pelajaran IPA melalui penerapan strategi pembelajaran yang dianggap sesuai, pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar mengajar dan lain sebagainya. Pengujian dan/atau pengembangan strategi pembelajaran bukan merupakan rumusan tujuan PTK. Ketercapaian tujuan hendaknya dapat diverfikasi secara obyektif.
Di samping tujuan PTK di atas, juga perlu diuraikan kemungkinan kemanfaatan penelitian. Dalam hubungan ini, perlu dipaparkan secara spesifik keuntungan-keuntungan yang dapat diperoleh, khususnya bagi siswa, di samping bagi guru pelaksana PTK, bagi rekan-rekan guru lainnya serta bagi dosen LPTK sebagai pendidik guru. Pengembangan ilmu, bukanlah prioritas dalam menetapkan tujuan PTK.

BAB II KERANGKA TEORETIK DAN HIPOTESIS TINDAKAN


Pada bagian ini diuraikan landasan konseptual dalam arti teoritik yang digunakan peneliti dalam menentukan alternatif pemecahan masalah. Untuk keperluan itu, dalam bagian ini diuraikan  kajian baik pengalaman peneliti PTK sendiri nyang relevan maupun pelaku-pelaku PTK lain di samping terhadap teori-teori yang lazim hasil kajian kepustakaan. Pada bagian ini diuraikan kajian teori dan pustaka yang menumbuhkan gagasan mendasar usulan rancangan penelitian tindakan. Kemukakan juga teori, temuan dan bahan penelitian lain yang mendukung pilihan tindakan untuk mengatasi permasalahan penelitian tersebut. Uraian ini digunakan untuk menyusun kerangka berpikir atau konsep yang akan digunakan dalam penelitian. Pada bagian akhir dapat dikemukakan hipotesis tindakan yang menggambarkan indikator keberhasilan tindakan yang diharapkan/ diantisipasi. Sebagai contoh, akan dilakukan PTK yang menerapkan model pembelajaran kontekstual sebagai jenis tindakannya. Pada kajian pustaka harus jelas dapat dikemukakan:
(1)     Bagaimana teori pembelajaran kontekstual, siapa saja tokoh-tokoh dibelakangnya, bagaimana sejarahnya, apa yang spesifik dari teori tersebut, persyaratannya, dll.
(2)     Bagaimana bentuk tindakan yang dilakukan dalam penerapan teori tersebut pada pembelajaran, strategi pembelajarannya, skenario pelaksanaannya, dll.
(3)     Bagaimana keterkaitan atau pengaruh penerapan model tersebut dengan perubahan yang diharapkan, atau terhadap masalah yang akan dipecahkan, hal ini hendaknya dapat dijabarkan dari berbagai hasil penelitian yang sesuai.
(4)     Bagaimana perkiraan hasil (hipotesis tindakan) dengan dilakukannya penerapan model di atas pada pembelajaran terhadap hal yang akan dipecahkan.


BAB III PROSEDUR PENELITIAN

Pada bagian ini diuraikan secara jelas prosedur penelitian yang akan dilakukan. Kemukakan obyek, waktu dan lamanya tindakan, serta lokasi penelitian secara jelas. Prosedur hendaknya dirinci dan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, evaluasi-refleksi, yang bersifat daur ulang atau siklus. Sistematika dalam ini meliputi:
a.    Setting penelitian dan karakteristik subjek penelitian. Pada bagian ini disebutkan di mana penelitian tersebut dilakukan, di kelas berapa dan bagaimana karakteristik dari kelas tersebut seperti komposisi siswa pria dan wanita. Latar belakang sosial ekonomi yang mungkin relevan dengan permasalahan, tingkat kemampuan dan lain sebagainya.
b.    Variabel yang diselidiki. Pada bagian ini ditentukan variabel-variabel penelitian yang dijadikan fokus utama untuk menjawab permasalahan yang dihadapi. Variabel tersebut dapat berupa (1) variabel input yang terkait dengan siswa, guru, bahan pelajaran, sumber belajar, prosedur evaluasi, lingkungan belajar, dan lain sebagainya; (2) variabel proses pelanggaran KBM seperti interaksi belajar-mengajar, keterampilan bertanya, guru, gaya mengajar guru, cara belajar siswa, implementasi berbagai metode mengajar di kelas, dan sebagainya, dan (3) variabel output seperti rasa keingintahuan siswa, kemampuan siswa mengaplikasikan pengetahuan, motivasi siswa, hasil belajar siswa, sikap terhadap pengalaman belajar yang telah digelar melalui tindakan perbaikan dan sebagainya.

c.    Rencana Tindakan. Pada bagian ini digambarkan rencana tindakan untuk meningkatkan pembelajaran, seperti :
1)   Perencanaan, yaitu persiapan yang dilakukan sehubungan dengan PTK yang diprakarsai seperti penetapan tindakan,  pelaksanaan tes diagnostik untuk menspesifikasi masalah,  pembuatan skenario pembelajaran, pengadaan alat-alat dalam rangka implementasi PTK, dan lain-lain yang terkait dengan pelaksanaan tindakan perbaikan yang ditetapkan. Disamping itu juga diuraikan alternatif-alternatif solusi yang akan dicobakan dalam rangka perbaikan masalah
2)    Implementasi Tindakan, yaitu deskripsi tindakan yang akan dilakukan. Skenario kerja tindakan perbaikan dan prosedur tindakan yang akan diterapkan.
3)   Observasi dan Interpretasi, yaitu uraian tentang prosedur perekaman dan penafsiran data mengenai proses dan produk dari implementasi tindakan perbaikan yang dirancang.
4)    Analisis dan Refleksi, yaitu uraian tentang prosedur analisis terhadap hasil pemantauan dan refleksi berkenaan dengan proses dan dampak tindakan perbaikan yang akan digelar, personel yang akan dilibatkan serta kriteria dan rencana bagi tindakan berikutnya.
d.   Data dan cara pengumpulannya. Pada bagian ini ditunjukan dengan jelas jenis data yang akan dikumpulkan yang berkenaan dengan baik proses maupun dampak tindakan perbaikan yang di gelar, yang akan digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan atau kekurangberhasilan tindakan perbaikan pembelajaran yang dicobakan. Format data dapat bersifat kualitatif, kuantitatif, atau kombinasi keduanya.
e.    Indikator kinerja, pada bagian ini tolak ukur keberhasilan tindakan perbaikan ditetapkan secara eksplisit sehingga memudahkan verifikasinya untuk tindakan perbaikan melalui PTK yang bertujuan mengurangi kesalahan konsep siswa misalnya perlu ditetapkan kriteria keberhasilan yang diduga sebagai dampak dari implementasi tindakan perbaikan yang dimaksud.
f.     Tim peneliti dan tugasnya, pada bagian ini hendaknya dicantumakan nama-nama anggota tim peneliti dan uraian tugas peran setiap anggota tim peneliti serta jam kerja yang dialokasikan setiap minggu untuk kegiatan penelitian.
g.    Jadwal kegiatan penelitian disusun dalam matriks yang menggambarkan urutan kegiatan dari awal sampai akhir.
h.    Rencana anggaran, meliputi kebutuhan dukungan financial untuk tahap persiapan pelaksanan penelitian, dan pelaporan.

LATIHAN/TUGAS
1. Identifikasi Masalah dalam PTK
  1. kemukakanlah masalah-masalah atau kendala-kendala yang anda hadapi ketika   melaksanakan tugas  dalam pembelajaran/bimbingan……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………


  1. pilihlah salah satu masalah yang menurut anda mendesak!
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….......
  1. berikan alasan mengapa masalah tersebut penting untuk segera dicarikan pemecahannya!
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………....

  1. Faktor-faktor penyebab munculnya masalah yang dirumuskan tersebut!
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
  1. Dapatkanlah satu alternatif pemecahan masalah untuk memecahkan masalah urgent yang anda hadapi tersebut! Alternatif pemecahan masalah itu harus bertolak dari hasil analisis dan didasarkan pada teori tertentu.
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
2. Kerangka Penelitian Tindakan
a. Masalah:
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

b. Rencana Tindakan:
Siklus 1:
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
  
Siklus 2:
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………...................

c. Rincian Tindakan/Langkah-langkah:

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………


d. Contoh Format Observasi:

NO
ASPEK YANG DIOBSERVASI
SKOR
KETERANGAN
1
2
3
4
5

















































3. Usulan PTK
a. Tulislah judul PTK yang anda usulkan
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………Apakah judul PTK anda telah mencantumkan hal-hal berikut:
F  Tujuan
F  Cara menyelesaikan masalah
F  Tempat penelitian dilaksanakan

b. Deskripsi masalah yang anda hadapi
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Apakah masalah yang anda deskripsikan telah memuat hal-hal sebagai berikut:
F  Apakah deskripsi masalah telah disesuaikan dengan kondisi nyata     tentang kendala-kendala yang anda hadapi sewaktu melaksakan tugas kepengawasan.
F  Apakah deskripsi masalah telah memuat identifikasi satu masalah yang mendesak untuk segera dilaksanakan?
F  Apakah deskripsi masalah telah memuat  tentang analisis masalah?
F  Apakah deskripsi masalah telah memuat  tentang refleksi awal?
F  Bagaimana perumusan masalah?
c. Deskripsikan tentang cara pemecahan masalah yang anda ajukan!
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Apakah pemecahan masalah yang anda ajukan memenuhi rambu-rambu berikut?
F  Apakah ada alternatif pemecahan masalah?
F  Apakah alternatif pemecahan masalah itu didasarkan pada teori tertentu?
F  Apakah alternatif pemecahan masalah itu bertolak dari hasil analisis?
d. Rumuskan hasil yang diharapkan dari penelitian anda!
Apakah rumusan yang diharapkan dalam penelitian anda telah memuat hal –hal sebagai berikut:
F  Apakah rumusan hasil yang diharapkan telah mengemukakan hasil yang diharapkan bagi siswa?
F  Apakah rumusan hasil yang diharapkan telah mengemukakan hasil yang diharapkan bagi praktisi (kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan lainnya di sekolah)?
e. Kemukakan prosedur tindakan yang anda lakukan dalam PTK ini!
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Apakah dalam deskripsi tentang prosedur tindakan sekolah telah anda kemukakan hal-hal sebagai berikut:
F  Apakah ada deskripsi tentang setting dan karakteristik subyek?
F  Apakah ada variabel/faktor yang diselidiki?
F  Apakah ada rencana tindakan yang mencakup misalnya strategi, pendekatan, metode atau teknik yang digunakan dalam implementasi tindakan, observasi, analisis, dan refleksi?
a.    Tulislah lokasi penelitian anda!
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
b.    Tulislah personil tim peneliti anda!

LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Apabila guru sudah merasa puas dengan siklus-siklus yang dilakukan, langkah berikutnya tidak lain adalah menyusun laporan kegiatan. Proses penyusunan laporan ini tidak akan dirasakan sulit apabila sejak awal guru sudah disiplin mencatat apa saja yang sudah dilakukan. Untuk menyusun laporan penelitian diperlukan pedoman penulisan yang dapat dipakai sebagai acuan para peneliti pelaksana, sehingga tidak ditemukan adanya variasi bentuk. Di samping itu, juga perlu disesuaikan dengan pedoman yang sudah ditetapkan Diknas dalam rangka memenuhi persyaratan penulisan karya tulis ilmiah (KTI) dalam upaya meningkatkan jabatan/ golongan melalui pengembangan profesi. Berikut ini disampaikan bentuk laporan PTK dalam rangka mempertanggungjawabkan kegiatan yang dilakukan dengan menglompokannya menjadi tiga bagian yaitu sebagai berikut.

Bagian awal terdiri dari:
1.  Halaman Judul
2.  Halaman Pengesahan
3.  Abstrak
4.  Kata Pengantar
5.  Daftar Isi
6.  Daftar tabel/ lampiran

Bagian isi memuat hal-hal sebagai berikut:
BAB I  PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan masalah
C. Tujuan Penelitian
D. Manfaat Penelitian
BAB II   KAJIAN TEORETIK DAN PUSTAKA
BAB III Prosedur/Metode Penelitian
BAB IV  HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V   SIMPULAN DAN SARAN

Penjelasan dari sistematika tersebut adalah sebagai berikut.
Dalam Bab I, dimulai dengan mendikripsikan masalah penelitian secara jelas dengan dukungan data faktual yang menunjukkan adanya masa-ah pada setting tertentu, pentingnya masalah untuk dipecahkan. Uraikan bahwa masalah yang diteliti benar-benar nyata, berada dalam kewenangan guru dan akibat yang ditimbulkan kalau masalah tidak dipecahkan
Selanjutnya masalah dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya, sehingga akan terjawab setelah tindakan selesai dilakukan. Diupayakan rumusan masalah ini dapat dirinci dalam proses, situasi, hasil yang diperoleh.
Dalam tujuan penelitian hendaknya dikemukakan secara rinci tujuan yang hendak dicapai sesuai dengan rumusan masalah yang dikemukakan pada bagian sebelumnya.
Manfaat penelitian agar dikemukakan secara wajar, tidak perlu ambisius, rumuskan yang terkait dengan siswa, dan dapat juga diperluas ke guru.
Dalam Bab II, kemukakan teori dan hasil kajian/temuan/penelitian yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Serta memberi arah serta petunjuk pada pelaksanaan tindakan yang dilaksanakan dalam penelitian. Diperlukan untuk dapat membangun argumentasi teoritis yang menunjukan bahwa tindakan yang diberikan dimung-kinkan dapat meningkatkan mutu proses pembelajaran di kelas. Pada akhir bab ini dapat dikemukakan hipotesis tindakan.
Pada Bab III, deskripsikan setting penelitian secara jelas, tahapan di setiap siklus yang memuat: rencana, pelaksanaan/ tindakan, pemantuan dan evaluasi beserta jenis instrumen yang digunakan, refleksi (perlu dibedakan antara metode penelitian pada usulan penelitian dengan metode yang ada pada laporan penelitian). Tindakan yang dilakukan berisfat rational, feasible, collaborative.

Kemudian pada  Bab IV, dideskripsikan setting penelitian secara lengkap kemudian uraian masing-masing siklus dengan disertai data lengkap berserta aspek-aspek yang direkam/diamati tiap siklus. Rekaman itu menunjukkan terjadinya perubahan akibat tindakan yang diberikan. Ditunjukkan adanya perbedaan dengan pelajaran yang biasa dilakukan. Pada refleksi diakhir setiap siklus berisi penjelasan tentang aspek keberhasilan dan kelemahan yang tenjadi dalam bentuk grafik. Kemukakan adanya perubahan/kemajuan/perbaikan yang terjadi pada diri siswa, lingkungan kelas, guru sendiri, minat, motivasi belajar, dan hasil belajar. Untuk bahan dasar analisis dan pembahasan kemukakan hasil keseluruhan siklus ke dalam suatu ringkasan tabel/ grafik. Dan tabel/grafik rangkuman itu akan dapat memperjelas perubahan yang terjadi disertai pembahasan secara rinci dan jelas.
Terakhir dalam Bab V sajikan simpulan dan hasil penelitian sesuai dengan hasil analisis dan tujuan penelitian yang telah disampaikan sebelumnya. Berikan saran sebagai tindak lanjut berdasarkan simpulan yang diperoleh baik yang menyangkut segi positif maupun negatifnya.

Daftar Pustaka
Memuat semua sumber pustaka yang dirujuk dalam kajian teori yang digunakan dalam semua bagian laporan, dengan sistem penulisan yang konsisten menurut ketentuan yang berlaku.

Lampiran-Lampiran
Berisi lampiran berupa instrumen yang digunakan dalam penelitian, lembar jawaban dari siswa, izin penelitian dan bukti lain yang dipandang penting.








BAB VI
 PENILAIAN KARYA TULIS ILMIAH


Karya Tulis Ilmiah (KTI) terbagi dalam dua besaran, yaitu KTI hasil Penelitian dan KTI Non Penelitian. Untuk menilai karya tulis ilmiah hasil KTI yang dibuat oleh guru maupun non penelitian, PTK merupakan KTI Penelitian. Suhardjono dkk (2009) menyusun rambu-rambu penilaian KTI  dan kriteria-kriteria penilaian KTI sebagai berikut.
Perhatikan identitas guru yang akan dinilai karya pengembangan profesinya
Ü  Tentukan jenis karya pengembangan profesi yang diusulkan
Lakukan  langkah penilaian KTI sebagai berikut ini
1.        Baca secara teliti KTI yang dinilai
2.        Tentukan dengan tepat jenis KTI
3.        Bila KTI tersebut merupakan pengajuan kembali (apelan), atau yang pernah ditolak, baca dengan cermat isi surat penolakan terdahulu, dan pahami apa yang disarankan dalam surat tersebut. Bila tidak ada surat terdahulu, tanyakan kepada sekretariat.
4.        Baca dengan cermat dan teliti KTI dengan memastikan kesesuaiannya dengan persyaratan yang ditentukan (APIK), kesesuaian kerangka isi, kelengkapan pengesahan dan persyaratan serta bukti fisik lain
5.        Bila telah MEMENUHI SYARAT berikan nilai sesuai dengan yang ditetapkan (lihat tabel besaran angka kredit KTI)
6.        Bila tidak memenuhi syarat TETAPKAN ALASAN PENOLAKAN DAN SARAN sesuai dengan nomor kode alasan penolakan
7.        Tuliskan nomor kode alasan penolakan dalam format penilaian untuk dapat diproses selanjutnya.

Macam KTI Kegiatan Pengembangan Profesi  Guru Dan Alasan Penolakan

1. KTI YANG TIDAK ASLI
No
Hal yang terdapat pada KARYA TULIS ILMIAH
Alasan penolakan dan saran
1.1
Pada KARYA TULIS ILMIAH terdapat indikasi yang menunjukkan bahwa KARYA TULIS ILMIAH tersebut tidak asli, seperti data yang tidak konsisten, lokasi, nama sekolah, dan data yang dipalsukan, lampiran yang tidak sesuai, dan lain-lain.
(Penilai harus menuliskan / menandai hal-hal yang diduga tidak asli  pada KARYA TULIS ILMIAH yang dinilainya)


Terdapat indikasi yang menunjukkan KARYA TULIS ILMIAH ini diragukan keasliannya, yaitu adanya berbagai data yang tidak konsisten
Disarankan untuk membuat KARYA TULIS ILMIAH baru, karya sendiri, dalam bidang pendidikan  yang berfokus pada laporan kegiatan nyata  yang bersangkutan dalam pengembangan profesinya sebagai pengawas sekolah.
Misalnya  berupa laporan penelitian, atau tinjauan ilmiah, prasaran ilmiah, karya ilmiah populer, diktat, buku pelajaran, atau karya terjemahan.
Bila KARYA TULIS ILMIAH tersebut berupa laporan penelitian maka sistematikanya  paling tidak memuat
(Bab I) Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah,  Perumusan Masalah, Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian; (Bab II) Kajian / Tinjauan Pustaka  yang berisi  uraian tentang kajian teori dan pustaka dari hal yang dipermasalahkan; (Bab III) Metode Penelitian yang menjelaskan tentang prosedur pelaksanaan penelitian; (Bab IV)  Hasil dan Analisis hasil penelitian; dan (Bab V) Simpulan dan Saran-Saran.
Laporan penelitian harus pula  melampirkan (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, b) contoh isian  instrumen  (c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti misalnya, analisis perhitungan, surat ijin,  foto-foto kegiatan, daftar hadir, dan lain-lain.

1.2
Pada KARYA TULIS ILMIAH terdapat indikasi yang menunjukkan kejanggalan misalnya :
Dalam satu tahun, seorang pengawas sekolah mengajukan lebih dari dua buah KARYA TULIS ILMIAH hasil penelitian.
(Catatan : Apabila setiap semester dilakukan satu penelitian, maka dalam setahun,  dihasilkan maksimal dua KARYA TULIS ILMIAH hasil penelitian)

Terdapat indikasi yang menunjukkan KARYA TULIS ILMIAH ini diragukan keasliannya, karena banyaknya laporan hasil penelitian dalam kurun waktu yang tersedia, tampak kurang wajar.
Disarankan untuk membuat KARYA TULIS ILMIAH baru, karya sendiri, dalam bidang pendidikan  yang berfokus pada laporan kegiatan nyata  yang bersangkutan dalam pengembangan profesinya sebagai pengawas sekolah.
Misalnya  berupa laporan penelitian, atau tinjauan ilmiah, prasaran ilmiah, karya ilmiah populer, diktat, buku pelajaran, atau karya terjemahan.
Bila KARYA TULIS ILMIAH tersebut berupa laporan penelitian maka sistematikanya  paling tidak memuat
(Bab I) Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah,  Perumusan Masalah, Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian; (Bab II) Kajian / Tinjauan Pustaka  yang berisi  uraian tentang kajian teori dan pustaka dari hal yang dipermasalahkan; (Bab III) Metode Penelitian yang menjelaskan tentang prosedur pelaksanaan penelitian; (Bab IV)  Hasil dan Analisis hasil penelitian; dan (Bab V) Simpulan dan Saran-Saran.
Laporan penelitian harus pula  melampirkan (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, b) contoh isian  instrumen  (c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti misalnya, analisis perhitungan, surat ijin,  foto-foto kegiatan, daftar hadir, dan lain-lain.

1.3
Pada karya tulis ilmiah terdapat indikasi yang menunjukkan kejanggalan misalnya :
Beberapa karya tulis ilmiah dari pengawas sekolah yang sama, sangat berbeda kualitasnya.
Misalnya satu KARYA TULIS ILMIAH berkualitas setara tesis, sedang KARYA TULIS ILMIAH lain yang,  mempunyai kualitas yang  sangat jauh berbeda.
Tidak wajar apabila kualitas KARYA TULIS ILMIAH dari pengawas sekolah yang sama, mempunyai mutu yang sangat jauh berbeda.
Terdapat indikasi yang menunjukkan KARYA TULIS ILMIAH ini diragukan keasliannya, yaitu  adanya  perbedaan mutu KARYA TULIS ILMIAH yang mencolok  di antara  karya-karya  yang dibuat oleh seorang pengawas sekolah yang sama
Disarankan untuk membuat KARYA TULIS ILMIAH baru, karya sendiri, dalam bidang pendidikan  yang berfokus pada laporan kegiatan nyata  yang bersangkutan dalam pengembangan profesinya sebagai pengawas sekolah.
Misalnya  berupa laporan penelitian, atau tinjauan ilmiah, prasaran ilmiah, karya ilmiah populer, diktat, buku pelajaran, atau karya terjemahan.
Bila KARYA TULIS ILMIAH tersebut berupa laporan penelitian maka sistematikanya  paling tidak memuat
(Bab I) Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah,  Perumusan Masalah, Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian; (Bab II) Kajian / Tinjauan Pustaka  yang berisi  uraian tentang kajian teori dan pustaka dari hal yang dipermasalahkan; (Bab III) Metode Penelitian yang menjelaskan tentang prosedur pelaksanaan penelitian; (Bab IV)  Hasil dan Analisis hasil penelitian; dan (Bab V) Simpulan dan Saran-Saran.
Laporan penelitian harus pula  melampirkan (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, b) contoh isian  instrumen  (c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti misalnya, analisis perhitungan, surat ijin,  foto-foto kegiatan, daftar hadir, dan lain-lain.

1.4
Pada KARYA TULIS ILMIAH terdapat indikasi yang menunjukkan kejanggalan misalnya :
KARYA TULIS ILMIAH yang dinyatakan dibuat dalam waktu yang berbeda (misalnya tahun-tahun yang berbeda) mempunyai kesamaan mencolok satu dengan yang lain.
Kesamaan itu misalnya tampak pada kata pengantar, tanggal pengesahan, tanggal pembuatan, foto pelaksanaan yang sama, dan data lain yang menunjukkan ketidakwajaran.
Terdapat indikasi yang menunjukkan KARYA TULIS ILMIAH ini diragukan keasliannya, yaitu  terdapat banyak kesamaan mencolok  di antara  KARYA TULIS ILMIAH yang dinyatakan dibuat pada waktu yang berbeda.
Disarankan untuk membuat KARYA TULIS ILMIAH baru, karya sendiri, dalam bidang pendidikan  yang berfokus pada laporan kegiatan nyata  yang bersangkutan dalam pengembangan profesinya sebagai pengawas sekolah.
Misalnya  berupa laporan penelitian, atau tinjauan ilmiah, prasaran ilmiah, karya ilmiah populer, diktat, buku pelajaran, atau karya terjemahan.
Bila KARYA TULIS ILMIAH tersebut berupa laporan penelitian maka sistematikanya  paling tidak memuat
(Bab I) Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah,  Perumusan Masalah, Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian; (Bab II) Kajian / Tinjauan Pustaka  yang berisi  uraian tentang kajian teori dan pustaka dari hal yang dipermasalahkan; (Bab III) Metode Penelitian yang menjelaskan tentang prosedur pelaksanaan penelitian; (Bab IV)  Hasil dan Analisis hasil penelitian; dan (Bab V) Simpulan dan Saran-Saran.
Laporan penelitian harus pula  melampirkan (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, b) contoh isian  instrumen  (c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti misalnya, analisis perhitungan, surat ijin,  foto-foto kegiatan, daftar hadir, dan lain-lain.

1.5












KARYA TULIS ILMIAH yang diajukan sangat mirip skipsi, tesis atau desertasi (yang sangat mungkin karya orang lain, atau karya yang bersangkutan)
Hal ini tampak dari sajian isi, format kelengkapan kepustakaan, kedalaman teori dan terutama permasalahan penelitiannya.





Terdapat indikasi yang menunjukkan KARYA TULIS ILMIAH ini diragukan keasliannya, yaitu adanya kemiripan yang sangat mencolok dengan skripsi, tesis atau desertasi (yang sangat mungkin karya orang lain)
Disarankan untuk membuat KARYA TULIS ILMIAH baru, karya sendiri, dalam bidang pendidikan  yang berfokus pada laporan kegiatan nyata  yang bersangkutan dalam pengembangan profesinya sebagai pengawas sekolah.
Misalnya  berupa laporan penelitian, atau tinjauan ilmiah, prasaran ilmiah, karya ilmiah populer, diktat, buku pelajaran, atau karya terjemahan.
Bila KARYA TULIS ILMIAH tersebut berupa laporan penelitian maka sistematikanya  paling tidak memuat
(Bab I) Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah,  Perumusan Masalah, Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian; (Bab II) Kajian / Tinjauan Pustaka  yang berisi  uraian tentang kajian teori dan pustaka dari hal yang dipermasalahkan; (Bab III) Metode Penelitian yang menjelaskan tentang prosedur pelaksanaan penelitian; (Bab IV)  Hasil dan Analisis hasil penelitian; dan (Bab V) Simpulan dan Saran-Saran.
Laporan penelitian harus pula  melampirkan (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, b) contoh isian  instrumen  (c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti misalnya, analisis perhitungan, surat ijin,  foto-foto kegiatan, daftar hadir, dan lain-lain
1.6

KARYA TULIS ILMIAH yang diajukan adalah skripsi, tesis atau disertasi dari yang bersangkutan
Terdapat indikasi yang menunjukkan KARYA TULIS ILMIAH adlah  skripsi atau tesis dari yang bersangkutan.
Skripsi atau  tesis sudah dinilai dan memperoleh angka kredit dalam proses belajar mengajar (PBM), sehingga tidak dapat dinilai dalam kegiatan pengembangan profesi.
Disarankan untuk membuat KARYA TULIS ILMIAH baru, karya sendiri, dalam bidang pendidikan  yang berfokus pada laporan kegiatan nyata  yang bersangkutan dalam pengembangan profesinya sebagai pengawas sekolah.











1.7
Beberapa KARYA TULIS ILMIAH (yang umumnya berasal dari daerah yang sama) sangat mirip.
Kemiripan yang mencolok  tersebut tampak pada pengantar, abstrak, teori, daftar pustaka,  yang tertulis sama baik bentuk dan ukuran huruf, kata-demi-kata, kalimat dan lain-lain. 
Fakta di lapangan menunjukkan adanya biro jasa yang bersedia “membuatkan” KARYA TULIS ILMIAH bagi para guru.
Terdapat indikasi yang menunjukkan KARYA TULIS ILMIAH ini diragukan keasliannya yaitu adanya  berbagai kesamaan mencolok dengan KTI-KTI yang dibuat oleh guru yang lain dari daerah yang sama.
Disarankan untuk membuat KARYA TULIS ILMIAH baru, karya sendiri, dalam bidang pendidikan  yang berfokus pada laporan kegiatan nyata  yang bersangkutan dalam pengembangan profesinya sebagai pengawas sekolah.
Misalnya  berupa laporan penelitian, atau tinjauan ilmiah, prasaran ilmiah, karya ilmiah populer, diktat, buku pelajaran, atau karya terjemahan.
Bila KARYA TULIS ILMIAH tersebut berupa laporan penelitian maka sistematikanya  paling tidak memuat
(Bab I) Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah,  Perumusan Masalah, Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian; (Bab II) Kajian / Tinjauan Pustaka  yang berisi  uraian tentang kajian teori dan pustaka dari hal yang dipermasalahkan; (Bab III) Metode Penelitian yang menjelaskan tentang prosedur pelaksanaan penelitian; (Bab IV)  Hasil dan Analisis hasil penelitian; dan (Bab V) Simpulan dan Saran-Saran.
Laporan penelitian harus pula  melampirkan (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, b) contoh isian  instrumen  (c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti misalnya, analisis perhitungan, surat ijin,  foto-foto kegiatan, daftar hadir, dan lain-lain.





2. PENELITIAN
2.1. Umum
No
Hal terdapat pada KARYA TULIS ILMIAH
Alasan penolakan dan saran
2.1.1
Isi KARYA TULIS ILMIAH berupa laporan penelitian di luar bidang pendidikan/ pembelajaran.
Lebih merupakan penelitian bidang studi atau penelitian isi bahan pelajarannya.


Contoh judul:
1.     Pengaruh jumlah faktor air semen pada kekuatan tekan beton.
2.     Analisis kesalahan siswa dalam mengubah kalimat aktiff menjadi kalimat pasif
KARYA TULIS ILMIAH  dinyatakan sebagai laporan hasil penelitian,  namun Penelitian yang dilakukan lebih berfokus pada peneilian keilmuan di bidang studi  tertentu dan  tidak terkait dengan kegiatan nyata yang bersangkutan dalam kegiatan pengembangan profesinya sebagai pengawas sekolah.
Disarankan untuk membuat KARYA TULIS ILMIAH baru, dalam bidang pendidikan  yang berfokus pada laporan kegiatan nyata  yang bersangkutan dalam pengembangan profesinya sebagai pengawas sekolah.
Misalnya  berupa laporan penelitian, atau tinjauan ilmiah, prasaran ilmiah, karya ilmiah populer, diktat, buku pelajaran, atau karya terjemahan.
Bila KARYA TULIS ILMIAH tersebut berupa laporan penelitian maka sistematikanya  paling tidak memuat
(Bab I) Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah,  Perumusan Masalah, Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian; (Bab II) Kajian / Tinjauan Pustaka  yang berisi  uraian tentang kajian teori dan pustaka dari hal yang dipermasalahkan; (Bab III) Metode Penelitian yang menjelaskan tentang prosedur pelaksanaan penelitian; (Bab IV)  Hasil dan Analisis hasil penelitian; dan (Bab V) Simpulan dan Saran-Saran.
Laporan penelitian harus pula  melampirkan (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, b) contoh isian  instrumen  (c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti misalnya, analisis perhitungan, surat ijin,  foto-foto kegiatan, daftar hadir, dan lain-lain.
2.1.2
KARYA TULIS ILMIAH dinyatakan  berupa laporan penelitian, namun latar belakang masalah  tidak jelas  sehingga tidak dapat menunjukkan pentingnya hal yang dibahas dan  hubungan masalah tersebut dengan upayanya untuk mengembangkan profesinya sebagai pengawas sekolah (misalnya tidak ada fakta spesifik yang berkaitan dengan masalah di sekolah atau kelasnya)
KARYA TULIS ILMIAH berupa laporan hasil penelitian namun  latar belakang masalah  tidak jelas  sehingga tidak dapat menunjukkan pentingnya hal yang dibahas
Latar belakang masalah penelitian harus dapat menunjukkan pentingnya hal yang dibahas dan  hubungan masalah tersebut dengan upaya  pengawas sekolah dalam  mengembangkan profesinya
Latar belakang masalah juga harus didukung oleh fakta spesifik yang berkaitan dengan masalah yang nyata terjadi di sekolah atau kelasnya.
Disarankan untuk membuat KARYA TULIS ILMIAH baru, dalam bidang pendidikan  yang berfokus pada laporan kegiatan nyata  yang bersangkutan dalam pengembangan profesinya sebagai pengawas sekolah. Misalnya  berupa laporan penelitian, atau tinjauan ilmiah, prasaran ilmiah, karya ilmiah populer, diktat, buku pelajaran, atau karya terjemahan.

2.1.3
KARYA TULIS ILMIAH dinyatakan  berupa laporan penelitian, namun  rumusan masalah tidak jelas sehingga kurang dapat diketahui apa sebenarnya yang akan diungkapkan pada KARYA TULIS ILMIAHnya
KARYA TULIS ILMIAH berupa laporan hasil penelitian namun rumusan masalah tidak jelas sehingga kurang dapat diketahui apa sebenarnya yang akan diungkapkan pada KARYA TULIS ILMIAHnya
Rumusan masalah harus benar-benar dapat menunjukkan variabel-variabel apa saja, dan bagaimana hubungan antar variablel tersebut yang akan dikaji dalam penelitian.
Rumusan masalah hendaknya mampu memberikan gambaran yang jelas apa sebenarnya yang akan dikaji pada penelitian tersebut.
Disarankan untuk membuat KARYA TULIS ILMIAH baru, dalam bidang pendidikan  yang berfokus pada laporan kegiatan nyata  yang bersangkutan dalam pengembangan profesinya sebagai pengawas sekolah. Misalnya  berupa laporan penelitian, atau tinjauan ilmiah, prasaran ilmiah, karya ilmiah populer, diktat, buku pelajaran, atau karya terjemahan.






2.1.4
KARYA TULIS ILMIAH berupa laporan penelitian, namun (a) kebenarannya tidak terdukung oleh kebenaran teori, kebenaran fakta  dan kebenaran analisisnya, atau (b) metode penelitian,  sampling,  data, analisis hasil yang tidak / kurang  benar.


KARYA TULIS ILMIAH berupa laporan hasil penelitian menunjukkan (a) kebenarannya tidak terdukung oleh kebenaran teori, kebenaran fakta  dan kebenaran analisisnya, dan atau (b) metode penelitian,  sampling,  data, analisis hasil yang tidak / kurang  benar.
Kajian teori atau kajian hasil-hasil penelitian terdahulu hendaknya sesuai dengan variabel-variabel penelitian.
Metode penelitian, sampling dan analisis hasil harus dapat mendukung ketercapaian hasil penelitian.
Disarankan untuk membuat KARYA TULIS ILMIAH baru, dalam bidang pendidikan  yang berfokus pada laporan kegiatan nyata  yang bersangkutan dalam pengembangan profesinya sebagai pengawas sekolah.
Misalnya  berupa laporan penelitian, atau tinjauan ilmiah, prasaran ilmiah, karya ilmiah populer, diktat, buku pelajaran, atau karya terjemahan.


2.2.  PTK
No
Hal terdapat pada KARYA TULIS ILMIAH
Alasan penolakan dan saran
2.2.1
KARYA TULIS ILMIAH dinyatakan sebagai Laporan PTK namun tidak jelas apa, bagaimana dan mengapa kegiatan tindakan yang dilakukan,  juga tidak jelas bagaimana peran hasil evaluasi dan refleksi pada penentuan siklus-siklus berikutnya.


KARYA TULIS ILMIAH  dinyatakan sebagai laporan PTK, namun :  tidak jelas apa, bagaimana dan mengapa kegiatan tindakan yang dilakukan,  juga tidak jelas bagaimana peran hasil evaluasi dan refleksi pada penentuan siklus-siklus berikutnya.
Disarankan untuk membuat KARYA TULIS ILMIAH baru, misalnya  berupa laporan penelitian tindakan, atau tinjauan ilmiah, prasaran ilmiah, karya ilmiah populer, diktat, buku pelajaran, dan karya terjemahan.
Bila KARYA TULIS ILMIAH tersebut berupa laporan penelitian tindakan  maka sistematikanya  paling tidak memuat:
(Bab I) Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah dan Cara Pemecahan Masalah melalui rencana tindakan yang akan dilakukan, Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian; (Bab II) Kajian / Tinjauan Pustaka  yang berisi  uraian tentang kajian teori dan pustaka tentang apa, bagaimana dan mengapa kegiatan tindakan yang dilakukan; (Bab III) Metode Penelitian yang menjelaskan tentang prosedur penelitian; (Bab IV)  Hasil penelitian berisi tindakan tiap siklus,data lengkap tiap siklus,perubahan pada siswa, pengawas sekolah dan klas, bahasan seluruh siklus ; dan (Bab V) Simpulan dan Saran-Saran.
Laporan penelitian harus pula  melampirkan (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, terutama lembar pengamatan, b) contoh-contoh hasil kerja dalam pengisian/ pengerjaan instrumen baik oleh pengawas sekolah maupun siswa, (c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti foto-foto kegiatan, daftar hadir, cacatan harian dalam  pelaksanaan PTK, surat ijin, dan lain-lain.


2.2.2
KARYA TULIS ILMIAH dinyatakan sebagai laporan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan oleh pengawas tanpa kolaborasi dengan guru 

KARYA TULIS ILMIAH  dinyatakan sebagai laporan PTK, namun pengawas sekolah melakukannya tanpa beekerjasama dengan guru. Atau TIDAK mencantumkan nama guru yang bekerjasama dalam melakukan PTKnya.
Disarankan untuk membuat KARYA TULIS ILMIAH baru, misalnya  berupa laporan penelitian tindakan sekolah, atau tinjauan ilmiah, prasaran ilmiah, karya ilmiah populer, diktat, buku pelajaran, dan karya terjemahan.
Bila KARYA TULIS ILMIAH tersebut berupa laporan penelitian tindakan sekolah maka sistematikanya  paling tidak memuat:
(Bab I) Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah dan Cara Pemecahan Masalah melalui rencana tindakan yang akan dilakukan, Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian; (Bab II) Kajian / Tinjauan Pustaka  yang berisi  uraian tentang kajian teori dan pustaka tentang apa, bagaimana dan mengapa kegiatan tindakan yang dilakukan; (Bab III) Metode Penelitian yang menjelaskan tentang prosedur penelitian; (Bab IV)  Hasil penelitian berisi tindakan tiap siklus,data lengkap tiap siklus,perubahan pada siswa, pengawas sekolah dan klas, bahasan seluruh siklus ; dan (Bab V) Simpulan dan Saran-Saran.
Laporan penelitian harus pula  melampirkan (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, terutama lembar pengamatan, b) contoh-contoh hasil kerja dalam pengisian/ pengerjaan instrumen baik oleh pengawas sekolah maupun siswa, (c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti foto-foto kegiatan, daftar hadir, cacatan harian dalam  pelaksanaan PTK, surat ijin, dan lain-lain.

2.2.3
KARYA TULIS ILMIAH yang diajukan berupa penelitian tindakan kelas  (PTK)  namun belum mengikuti kaidah penelitian tindakan
a. metode penelitian belum mengemukakan tahapan dan tindakan tiap siklus dan indikator keberhasilannya
b. pada laporan hasil dan pembahasan belum melaporkan data lengkap tiap siklus, perubahan yang terjadi pada guru, kepala sekolah atau tenaga kependidikan lain
c.  lampiran belum lengkap (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian terutama lembar pengamatan, test (b) contoh hasil kerja siswa dalam pengisian instrumen pelaksanaan oleh siswa dan pengawas sekolah , dokumen pelaksanaan seperti foto kegiatan, daftar hadir dan lainnya
KARYA TULIS ILMIAH yang diajukan berupa penelitian tindakan kelas, namun  (a) metode penelitian belum mengemukakan tahapan dan tindakan tiap siklus dan indikator keberhasilannya, (b) pada laporan hasil dan pembahasan belum melaporkan data lengkap tiap siklus, perubahan yang terjadi pada siswa, pengawas sekolah atau kelas serta bahasan terhadap keseluruhan hasil penelitian dan (c) lampiran belum lengkap
Disarankan  memperbaiki  laporan PTK tersebut. Isi  laporan penelitian tindakan kelas  paling tidak memuat:
(Bab I) Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah dan Cara Pemecahan Masalah melalui rencana tindakan yang akan dilakukan, Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian; (Bab II) Kajian / Tinjauan Pustaka  yang berisi  uraian tentang kajian teori dan pustaka tentang apa, bagaimana dan mengapa kegiatan tindakan yang dilakukan; (Bab III) Metode Penelitian yang menjelaskan tentang prosedur penelitian; (Bab IV)  Hasil penelitian berisi tindakan tiap siklus,data lengkap tiap siklus,perubahan pada siswa, pengawas sekolah dan klas, bahasan seluruh siklus ; dan (Bab V) Simpulan dan Saran-Saran.
Laporan penelitian harus pula  melampirkan (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, terutama lembar pengamatan, b) contoh-contoh hasil kerja dalam pengisian/ pengerjaan instrumen baik oleh pengawas sekolah maupun siswa, (c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti foto-foto kegiatan, daftar hadir, cacatan harian dalam  pelaksanaan PTK, surat ijin, dan lain-lain.
2.3. Artikel Ilmiah yang Dimuat di Jurnal

No
Hal terdapat pada KARYA TULIS ILMIAH
Alasan penolakan dan saran
2.3.1



Karya Tulis Ilmiah yang dinyatakan sebagai artikel yang dimuat di jurnal ilmiah.
Namun jurnal ilmiah tersebut kurang memenuhi syarat dalam persyaratan karena jumlah peredaran yang terbatas.
Karya Tulis Ilmiah yang dinyatakan sebagai artikel yang dimuat di jurnal ilmiah. Namun jurnal ilmiah tersebut kurang memenuhi syarat sebagai jurnal yang terakreditasi, atau kurang memadai sebagai jurnal ilmiah.
Bila dimaksudkan sebagai artikel yang dimuat pada jurnal ilmiah disarankan dapat dimuat melalui jurnal ilmiah yang telah terakreditasi.
Disarankan untuk membuat KARYA TULIS ILMIAH baru, misalnya  berupa laporan penelitian tindakan kelas, atau tinjauan ilmiah, prasaran ilmiah, karya ilmiah populer, diktat, buku pelajaran, dan karya terjemahan.
2.3.2



Karya Tulis Ilmiah yang dinyatakan sebagai artikel yang dimuat di jurnal ilmiah.
Namun  artikel tersebut BELUM DIMUAT dalam jurnal ilmiah
Karya Tulis Ilmiah yang dinyatakan sebagai artikel yang dimuat di jurnal ilmiah. Namun jurnal tidak menyertakan jurnal yang memuat artikel tersebut.
Disarankan untuk menyertakan jurnal yang memuat artikel tersebut.

2.4. Penelitian Eksperimen
No
Hal terdapat pada KARYA TULIS ILMIAH
Alasan penolakan dan saran
2.4.1
KARYA TULIS ILMIAH yang diajukan berupa penelitian eksperimen, namun tidak mengikuti kaidah penelitian eksperimen.










KARYA TULIS ILMIAH yang diajukan berupa penelitian eksperimen, belum dapat diterima karena tidak mengikuti kaidah penulisan laporan penelitian eksperimen.
Disarankan untuk membuat KARYA TULIS ILMIAH baru, misalnya  berupa laporan penelitian tindakan kelas, atau tinjauan ilmiah, prasaran ilmiah, karya ilmiah populer, diktat, buku pelajaran, dan karya terjemahan.
Bila,  penelitian eskperimen minimal mengandung unsur-unsur sebagai berikut :
1.  bab I pendahuluan berisi masalah aktual yang berkaitan dengan topik penelitiannya
2.  bab II kajian permasalahan mengetengahkan dasar-dasar teori tentang variabel yang dipermasalahkan dan treatment serta dasar hipotesisnya
3.  bab III mengetengahkan metode penelitian, penentuan kelompok eksperimen, waktu dan cara pelaksanaan eksperimen, unsur-unsur yang diamati selama percobaan, alat, cara dan aspek yang diamati/diukur dan teknik analisis datanya
4.  bab IV mengemukakan hasil penelitian dan pembahasan. Bab ini merupakan inti laporan agar disusun secermat dan selengkapnya
5.  bab V mengemukakan kesimpulan dan saran yang didasarkan pada bab-bab sebelumnya
Sebagai tambahan laporan penelitian eksperimen harus pula melampirkan (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, b) contoh-contoh hasil kerja dalam pengisian/ pengerjaan instrumen baik oleh pengawas sekolah maupun siswa, (c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti foto-foto kegiatan, daftar hadir, dan lain-lain.
2.5. Penelitian Pembandingan
No
Hal terdapat pada KARYA TULIS ILMIAH
Alasan penolakan dan saran
2.5.1
KARYA TULIS ILMIAH dinyatakan sebagai Laporan Penelitian Pembandingan namun tidak tampak kegiatan nyata apa yang telah dilakukan pengawas sekolah dalam kegiatan pengembangan profesi atau bahasan hanya sebatas membanding-kan  variabel yang telah jelas jawabannya
Contoh :
1.       Adakah perbedaan antara siswa laki-laki dan perempuan
2.       Adakah perbedaan prestasi belajar antara kelompok siswa dari keluarga mampu dan keluarga kurang mampu

KARYA TULIS ILMIAH  dinyatakan sebagai laporan penelitian perbandingan  tetapi, (a) tidak jelas kegiatan nyata apa yang telah dilakukan pengawas sekolah dalam kegiatan penelitian pembandingan tersebut dalam kaitanya kegiatan pengembangan profesi. (b) bahasan hanya sebatas membandingkan  variabel yang telah jelas jawabannya dan tidak berkaitan dengan tindakan professional pengawas sekolah dalam peningkatan profesinya.
Disarankan untuk membuat KARYA TULIS ILMIAH baru, dalam bidang pendidikan  yang berfokus pada laporan kegiatan nyata  yang bersangkutan dalam pengembangan profesinya sebagai pengawas sekolah.Misalnya  berupa laporan penelitian, atau tinjauan ilmiah, prasaran ilmiah, karya ilmiah populer, diktat, buku pelajaran, atau karya terjemahan.
Bila KARYA TULIS ILMIAH tersebut berupa laporan penelitian pembandingan, maka sistematikanya  paling tidak memuat
(Bab I) Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah,  Perumusan Masalah, Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian; (Bab II) Kajian / Tinjauan Pustaka  yang berisi  uraian tentang kajian teori dan pustaka dari hal yang dipermasalahkan; (Bab III) Metode Penelitian yang menjelaskan tentang prosedur pelaksanaan penelitian pembandingan, yang terdiri dari : Populasi, Sampling, Metode Pembandingan, Analisis data, dan lain-lain; (Bab IV)  Hasil dan Analisis hasil penelitian; dan (Bab V) Simpulan dan Saran-Saran.
Laporan penelitian harus pula  melampirkan (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, b) contoh isian  instrumen  (c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti misalnya, analisis perhitungan, surat ijin,  foto-foto kegiatan, daftar hadir, dan lain-lain.
2.6.  Penelitian Deskriptif

No
Hal terdapat pada KARYA TULIS ILMIAH
Alasan penolakan dan saran
2.6.1
KARYA TULIS ILMIAH dinyatakan sebagai laporan penelitian deskriptif, namun (a) tidak jelas kegiatan nyata apa yang telah dilakukan pengawas sekolah dalam kegiatan pengembangan profesinya, atau (b)bahasan hanya sebatas mendeskripsikan data tentang siswanya dalam kaitannya dengan sesuatu keadaan
Contoh:
1.    Gambaran penegakan disiplin di SMU Cendekia
2.    Latar belakang siswa SD karanganyar
3.    Minat siswa SMP dalam bidang kesenian di kota Medan

KARYA TULIS ILMIAH dinyatakan sebagai laporan penelitian deskriptif, namun : (a) tidak jelas kegiatan nyata apa yang telah dilakukan pengawas sekolah dalam kegiatan pengembangan profesinya, (b) bahasan hanya sebatas mendeskripsikan data tentang siswanya dalam kaitannya dengan sesuatu keadaan.
Disarankan untuk membuat KARYA TULIS ILMIAH baru, dalam bidang pendidikan  yang berfokus pada laporan kegiatan nyata  yang bersangkutan dalam pengembangan profesinya sebagai pengawas sekolah. Misalnya  berupa laporan penelitian, atau tinjauan ilmiah, prasaran ilmiah, karya ilmiah populer, diktat, buku pelajaran, atau karya terjemahan.
Bila berupa penelitian deskriptif,  paling tidak memuat :
Bab I) Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah,  Perumusan Masalah, Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian;
 (Bab II) Kajian / Tinjauan Pustaka  yang berisi  uraian tentang kajian teori dan pustaka dari hal yang dipermasalahkan;
 (Bab III) Metode Penelitian Deskriptif yang digunakan; Populasi dan Sampel
(Bab IV)  Hasil dan Analisis hasil penelitian;
dan (Bab V) Simpulan dan Saran-Saran.
Laporan penelitian harus pula  melampirkan (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, b) contoh isian  instrumen  (c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti misalnya, analisis perhitungan, surat ijin,  foto-foto kegiatan, daftar hadir, dan lain-lain.
2.7. Penelitian Korelasi/Hubungan/Pengaruh
No
Hal terdapat pada KARYA TULIS ILMIAH .
Alasan penolakan dan saran
2.7.1
KARYA TULIS ILMIAH dinyatakan sebagai Laporan Penelitian Korelasi  namun  tidak jelas kegiatan nyata apa yang telah dilakukan pengawas sekolah dalam kegiatan pengembangan profesi, atau bahasan hanya sebatas mengkorelasikan variabel yang telah jelas jawabannya
Contoh :
Korelasi antara motivasi dan hasil belajar
Korelasi antara panjang tungkai dan prestasi lari
Catatan : Penelitian korelasi masih dapat disetujui bila dilakukan oleh kepala sekolah yang menggunakan pengawas sekolah sebagai populasi.
KARYA TULIS ILMIAH  dinyatakan sebagai laporan penelitian korelasi, tetapi, (a) tidak jelas kegiatan nyata apa yang telah dilakukan pengawas sekolah dalam kegiatan pengembangan profesi, (b) bahasan hanya sebatas mengkorelasikan variabel-variabel  yang telah jelas jawabannya, dan tidak berkaitan dengan tindakan professional pengawas sekolah dalam peningkatan profesinya.
Disarankan untuk membuat KARYA TULIS ILMIAH baru,   dalam bidang pendidikan  yang berfokus pada laporan kegiatan nyata  yang bersangkutan dalam pengembangan profesinya sebagai pengawas sekolah. Misalnya  berupa laporan penelitian, atau tinjauan ilmiah, prasaran ilmiah, karya ilmiah populer, diktat, buku pelajaran, atau karya terjemahan.
Bila KARYA TULIS ILMIAH tersebut berupa laporan penelitian korelasi  maka sistematikanya  paling tidak memuat
(Bab I) Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah,  Perumusan Masalah, Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian yang harus dapat dijelaskan manfaat penelitian korelasi tersebut dengan tujuan pengembangan profesi pengawas sekolah dan proses belajar mengajarnya.. (Bab II) Kajian / Tinjauan Pustaka  yang berisi  uraian tentang kajian teori dan pustaka dari hal yang dipermasalahkan; (Bab III) Metode Penelitian Korelasi yang menjelaskan tentang prosedur dan peran nyata pengawas sekolah pelaksanaan penelitian; (Bab IV)  Hasil dan Analisis hasil penelitian harus sesuai dengan variable yang dikorelasikan terkait dengan peran nyata pengawas sekolah dalam penelitian tersebut; dan (Bab V) Simpulan dan Saran-Saran.Laporan penelitian harus pula  melampirkan (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, b) contoh isian  instrumen  (c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti misalnya, analisis perhitungan, surat ijin,  foto-foto kegiatan, daftar hadir, dan lain-lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar